Merajut Mimpi: Perempuan dan Cita-cita
- museumpergerakanwa
- 16 Mei
- 5 menit membaca
Merajut Mimpi: Perempuan dan Cita-cita
Ashilah Satya Khansa
Universitas Negeri Yogyakarta
Email: ashilasatya07@gmail.com
ABSTRAK
Perempuan merupakan salah satu elemen masyarakat yang memiliki peran dan fungsinya.
Perempuan sebagai mitra sejajar laki-laki harus bisa mengoptimalkan peran strategisnya dalam
sebuah pembangunan. Mimpi perempuan seringkali menjadi kekuatan pendorong bagi
perubahan sosial. Impian perempuan bukanlah hal yang statis, melainkan terus berkembang
seiring berjalannya waktu dan perubahan konteks sosial. Impian perempuan seringkali
terhubung erat dengan identitas diri. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana impian dapat
membentuk dan dibentuk oleh identitas perempuan. Esai ini juga membahas pentingnya bagi
perempuan untuk menemukan keseimbangan antara impian pribadi dan harapan sosial.
Kata Kunci : Perempuan, impian, peran.
PENDAHULUAN
Kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki dapat mengubah cara pandang dan berpikir mereka.Pertempuran yang dilakukan oleh R.A.Kartini, Dewi Saltika, dan tokoh perempuan Indonesia lainnya mungkin terlihat sederhana, namun mereka berkontribusi pada kemampuan perempuan untuk lebih memenuhi peran domestiknya sebagai istri dan ibu. Pada tingkat berikutnya, pertimbangan peran perempuan dalam kegiatan sosial dimulai. Kehidupan perempuan yang sebelumnya hanya berkisar di rumah, mulai beralih ke berbagi kehidupan dengan 'dunia luar' (Hajati, 1996: 57). Perempuan sebagai anggota masyarakat harus diperkuat. Perempuan pada hakikatnya mempunyai tanggung jawab yaitu 4M (menstruasi, hamil, melahirkan, dan laktasi) yang pada hakikatnya tidak dapat digantikan oleh lakilaki (Suryadi & Idris, 2004). Namun, ini bukan satu-satunya peran yang dapat dimainkannya.Perempuan akan terus dapat berpartisipasi dalam berbagai bidang.Seluruh elemen masyarakat baik laki-laki maupun perempuan harus diberdayakan untuk mencapai kesejahteraan. Seiring berjalannya waktu, definisi mimpi bagi wanita berkembang. Di masa lalu, impian perempuan seringkali dibatasi oleh norma dan ekspektasi sosial. Perempuan diharapkan mengesampingkan ambisi pribadinya dan fokus pada peran domestiknya. Namun, seiring dengan perubahan zaman dan gerakan feminis,
impian perempuan menjadi lebih luas dan beragam. Perempuan kini memiliki lebih banyak kebebasan untuk mengejar karir, pendidikan, dan tujuan hidup yang mereka idamkan.
PEMBAHASAN
Mimpi bagi seorang perempuan adalah kompas yang menuntun langkahnya dalam menjalani kehidupan. Ia adalah sebuah tujuan yang menjadi pendorong semangat dan motivasi untuk terus berjuang. Mimpi ini bisa sangat beragam, mulai dari impian sederhana seperti memiliki keluarga bahagia, hingga impian yang lebih besar seperti menjadi pemimpin atau membawa perubahan sosial. Pertanyaan āKarir atau keluarga?ā seringkali dilontarkan kepada perempuan yang berkarir dan mereka di tuntut untuk memilih salah satu dari keduanya yang merupakan hal penting dalam hidup.
a. Mimpi dan motivasi Perempuan
Mimpi memberikan tujuan hidup yang jelas dan memberikan semangat pada wanita untuk terus belajar dan berkembang. Mimpi membuat wanita merasa lebih berharga dan memberikan arah yang jelas dalam hidupnya. Namun, jalan menuju impian tidak selalu mudah.Perempuan seringkali menghadapi berbagai tantangan, termasuk stereotip gender, diskriminasi, dan beban ganda. Mimpi bisa menjadi sumber kekuatan yang luar biasa. Jika seorang wanita mempunyai mimpi, ia mempunyai alasan untuk tetap berjuang meski menghadapi kesulitan. Mimpi memberi anda kepercayaan diri dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman anda. Ketika mimpinya menjadi kenyataan, seorang wanita merasakan kebanggaan dan kepuasan yang luar biasa.
Menurut Indriyani (2009), perempuan memiliki dua peran: tradisi dan transisi. Tradisi ini berfokus pada peran perempuan dalam menjalankan rumah tangga sebagai istri, ibu, dan pengelola rumah tangga. Perempuan kini beralih ke dunia kerja aktif tergantung pada pelatihan dan keterampilan mereka. Menurut Pasal 49 ayat (1) Undang-undang Hak Asasi Manusia No. 39 Tahun 1999 (HAM), hak perempuan untuk memilih, dipilih, diangkat pada pekerjaan, jabatan, dan karier sesuai dengan persyaratan dan peraturan hukum tidaklah penting. Sudah menjadi kewajiban alamiah seorang perempuan untuk menafkahi keluarganya, namun sebagaimana laki-laki berhak mewujudkan cita-citanya tanpa harus mengurus keluarganya, demikian pula perempuan berhak mengejar karir untuk mewujudkan impiannya.
Anda berhak mendapatkan ruang dan waktu untuk melakukan dan mengejar sesuatu. Pikirkan tentang pilihan keluarga dan karier serta sudut pandang masyarakat sekitar. Mengapa mimpi begitu penting bagi wanita? Karena mimpi memberikan tujuan hidup yang jelas, wanita bersemangat untuk terus belajar dan berkembang. Anggaplah impian Anda sebagai kompas yang selalu mengarahkan Anda ke tujuan. Ketika seorang wanita bermimpi jernih, dia memiliki peta jalan untuk memandu hidupnya. Impian tersebut merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai, sehingga setiap langkah selalu diarahkan untuk bergerak menuju tujuan tersebut.
b. Peran Gender dalam Menentukan Cita-Cita.
Peran gender telah lama membentuk pandangan masyarakat mengenai apa yang dianggap pantas dan pantas bagi laki-laki dan perempuan.Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi cita-cita yang dianggap realistis oleh setiap gender. Stereotip gender yang masih ada sering kali membatasi pilihan dan peluang perempuan. Misalnya, perempuan sering kali diharapkan untuk memilih karier yang lebih sesuai dengan pekerjaan rumah tangga, seperti mengajar atau merawat, sedangkan laki-laki cenderung tidak mengejar karier di bidang yang lebih bergengsi dan bergaji lebih tinggi. Stereotip ini dapat menghalangi perempuan untuk mengejar cita-cita yang dianggap tidak konvensional.

Namun seiring berjalannya waktu, peran gender semakin berubah. Semakin banyak perempuan yang mendobrak batasan yang ditetapkan masyarakat dan meraih kesuksesan di berbagai bidang. Hal ini menunjukkan bahwa potensi perempuan tidak dibatasi oleh gender.Namun pengaruh peran gender masih terlihat hingga saat ini. Banyak faktor sosial, budaya dan ekonomi yang terus memperkuat stereotip gender dan menghalangi perempuan mencapai impian mereka.Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mendorong kesetaraan gender dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang, tanpa memandang gender, untuk mewujudkan impian mereka.
Masyarakat telah mengembangkan budaya yang menumbuhkan ekspektasi terhadap laki-laki untuk menampilkan ciri-ciri maskulin dan perempuan untuk menampilkan ciri-ciri feminin. Mengapa demikian ? Hal ini karena stereotip tentang peran gender didorong melalui proses sosialisasi dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meskipun stereotip peran gender telah berubah seiring berjalannya waktu, stereotip tersebut tampaknya belum sepenuhnya hilang. Proses ini masih berlangsung dan akan terjadi tarik-menarik. Dalam lingkungan seperti itu, perempuan menunjukkan kemampuannya.
c. Pengaruh Lingkungan Sosial terhadap Mimpi Perempuan
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling awal dan berpengaruh dalam membentuk impian perempuan. Sikap orang tua khususnya ibu terhadap pendidikan, karir, dan peran perempuan dalam masyarakat mempunyai pengaruh yang besar terhadap cara berpikir anak perempuannya. Jika perempuan didorong sejak kecil untuk mengenyam pendidikan tinggi dan karier yang sukses, mereka akan lebih percaya diri dalam mencapai impiannya. Di sisi lain, perempuan yang tumbuh di lingkungan yang menghargai perannya dalam keluarga mungkin merasa terbatas dalam mengejar impiannya di luar rumah.
Selain lingkungan rumah, lingkungan sekolah dan masyarakat juga memegang peranan penting. Di sekolah, guru dan teman sekelas merupakan sumber inspirasi dan dukungan bagi anak perempuan untuk mencapai impiannya. Namun, di lingkungan sekolah yang masih didominasi oleh paham patriarki, perempuan mungkin merasa risih atau rendah diri dalam mengutarakan keinginannya. Di masyarakat, diskriminasi gender, kekerasan terhadap perempuan, dan kurangnya akses terhadap sumber daya dapat menjadi hambatan besar bagi perempuan untuk mewujudkan impian mereka. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan sosial yang mendukung dan memberdayakan perempuan agar mereka dapat mencapai potensi maksimalnya.
KESIMPULAN
Merajut mimpi adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh tantangan bagi setiap individu, terutama perempuan. Mimpi adalah kompas yang menuntun langkah kita menuju tujuan hidup. Bagi perempuan, mimpi tidak hanya sebatas harapan, tetapi juga menjadi kekuatan pendorong untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat. Mimpi perempuan bisa sangat beragam, mulai dari impian sederhana seperti memiliki keluarga bahagia, hingga impian yang lebih besar seperti menjadi pemimpin atau membawa perubahan sosial. Mimpi yang terwujud tidak hanya memberikan kepuasan pribadi, tetapi juga menginspirasi perempuan lain untuk berani mengejar impian mereka. Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan perempuan dalam meraih mimpi juga berkontribusi pada kemajuan masyarakat secara keseluruhan.
Hajati, Chusnul. 1996. āPerjuangan Wanita Jawa Tengah Dalam Pergerakan Nasional 1900-1945ā. Dalam Jurnal Lembaran Sastra, Nomor 19. Halaman 45-57. Semarang: Fakultas Sastra Undip.
Hikmah, S. N. (2013). Perjuangan Perempuan Mengejar Impian: Sebuah Tinjauan (Kritik Sastra) Feminisme Eksistensialis terhadap Novel 9 Matahari Karya Adenita.
Suluk Indo, 2(2), 92-115. Indriyani, A. (2009). āPengaruh Konflik Peran Ganda dan Stress Kerja Terhadap Kinerja Perawat Rumah Sakit (Studi pada Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang)ā. Tesis, Program Studi
Magister Manajemen. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang.
Laksana, A. & Agung Bawantara. (1996). Mata Hati Roekmini Nurani untuk Hak Asasi. Jakarta: PT Prakarsa.
Nurlatifah, DA, Sumpena, D., & Hilman, FA (2020). Proses Pemberdayaan Perempuan pada Program Sekolah
Putri Meraih Impian dan Ambisi (Sekoper Cinta). Az-Zahra: Jurnal Kajian Gender dan Keluarga , 1 (1), 35-45.
Prastiwi, LR, & Rahmadanik, D. (2020). Polemik dalam karir perempuan Indonesia. Jurnal Ilmu Komunikasi
Dan Media , 4 (1). Suryadi, A., & Idris, E. (2004). Kesetaraan Gender. Bandung: PT Genesindo.



Komentar